sentimental moods

Ada kejadian cukup unik (setidaknya bagi saya) yang menimpa diri saya hari ini.

Mengawali hari ini seperti biasanya, berangkat kuliah pagi jam 9. Menghadiri kuliah makul semester 3.. Iya, ngulang. Pfft. Hanya untuk ga fokus di dalam kelas karna ada beberapa hal yang bikin hati sangat berkecamukmukmukmukmuk… Tak apalah, hati yang berkecamuk makes us human kan? Hehe. Selesai kuliah, saya gabut menunggu siang, menunggu seorang teman yg kuliahnya jam 11 supaya kita pergi bareng ke hartono mall, tempat kami KP.. Di tengah gabut menunggu teman itu, saya coba ngelamunin (baca: kontemplasi, introspeksi) hal2 yang membuat hati saya berkecamuk begitu hebat akhir2 ini. Buka2 twitter, scrolling2 instagram, layaknya generasi milennial masa kini. Then I stumbled upon website that talking about personal development. Saya baca artikel ini, dan ini. Dua artikel yang cukup menyadarkan saya tentang.. hufff, kekurangan2 saya.. Kekurangan2, yang bikin orang2 lain tersakiti.. Hiks… But, hey, semua orang pasti punya kekurangan kan? Sungguh kanak2 kalo saya ga berusaha memerbaiki kekurangan2 ini.. Hehe

Lalu akhirnya tiba juga waktu siang. Sebelum menuju tempat KP, saya nganterin teman saya ini buat ngambil helm di kosnya di masjid sardjito. Saya ga nganterin temen saya masuk ke sardjito karna kalo masuk nanti kudu mbayar parkir, padahal parkir berapa detik doang. Eman2 duite.. Heheh. Saya menunggu teman saya di luar sardjito. Tapi karna jalan kesehatan sudah penuh sesak dan ga ada tempat nunggu yang pewe, saya cari tempat menunggu lain. Saya menunggu di seberang toko bali. (yang paham daerah RS Sardjito pasti tau dimana letak toko bali ini). Saya nunggu tepat di belokan pertigaan. Di bawah pohon dekat trotoar, menunggu di atas motor dengan tetap memakai helm. Saya tau, saya ga akan nunggu lama di pojokan belokan itu. Saya menunggu sambil ngelamun.. nontonin orang2 bersliweran. Masih dengan hati yang berkecamuk, tentu. :”) Lalu tiba2.. seorang ibu2 pejalan kaki menghampiri saya.

Ibu2 yang usianya masih cukup muda. Berjilbab. Saya tebak usianya sekitar akhir 20-an. Dia datang bersama anak kecil perempuan, anaknya, yang usianya mungkin 4-5 tahun. Di kedua tangannya dia membawa tas kresek belanjaan berisi bantal dan barang2 lain, dan juga membawa tas kecil milik anaknya. Penampilannya biasa aja, ga menyedihkan kok. Hehehe. Ibu2 itu tiba2 menghampiri saya lalu bertanya “mas, kalo mau ke gamping itu ke arah mana ya?” Saya lihat ibu itu tampak bingung, ekspresi bertanyanya jelas menunjukkan bahwa dia bukan orang lokal. “ibu mau kemana?” tanya saya. “saya mau ke kebumen..” jawab si ibu. Daerah gamping yang dia maksud pasti pertigaan ringroad Gamping, tempat ngetem bis arah kebumen. Sampai di sini ga ada yang salah..

Lalu tiba2 ibu itu bercerita, kalo dia habis jalan kaki dari condongcatur… Maygaaat, condongcatur-bulaksumur itu jauh bener bro. Si ibu cerita kalo dia tadi pagi datang dari kebumen, pergi ke jogja untuk beli oleh2 untuk dibawa ke tempat asalnya di kutai, kalimantan timur.. Tapi saat dia sedang makan (soto? saya lupa) di sekitar beringharjo, dompet dan handphone nya hilang! Dompet dan handphone yang dia taruh di tas anaknya hilang begitu saja, dicari-cari ga ketemu, dan tas anaknya dalam keadaan terbuka.. Dia kecurian. 😦 Herannya, si ibu bercerita tanpa menunjukkan ekspresi kalut. Ekspresi sedih. Ekspresi abis jalan kaki dari concat. Ibu itu cerita kalo dompetnya berisi booking tiket pulang ke kutai, dan tentu saja berisi uang. Dia cerita, setelah kehilangan dompetnya, dia pergi ke kantor poltabes dekat malioboro untuk melapor. Setelah lapor pak polisi, oleh bapak polkis dia dianterin ke condongcatur, bermaksud untuk ke rumah temennya si ibu. Tapi ternyata temennya udah pindah.. Kemudian dia jalan kaki secara randomly menuju Gamping hingga akhirnya ketemu saya di seberang toko bali. Saya tanya, kalo udah sampai Gamping, lalu bagaimana caranya dia mencapai kebumen? Dia jawab, dia bakal jalan kaki.. 😦 lalu dia spontan lanjut bercerita kalo dia baru 2 hari di kebumen. Pergi ke tempat sodaranya. Saya kurang fokus mendengarkan ceritanya, tapi kalo ndak salah nangkep, dia pergi ke tempat sodara suaminya. Suaminya yang meninggal 3 tahun lalu… Meeeeen, ancur banget ati guwe denger suaminya udah meninggal, meninggalkan dia bersama seorang anak perempuan 😦 herannya, dia menceritakan hal itu dengan santai, sepertinya dia sudah melewati fase kehilangannya. Dia juga menceritakan semua kejadian kecurian dan rencana dia jalan kaki ke kebumen tanpa ekspresi khawatir…….

Saya tawarkan handphone saya untuk coba hubungi sodaranya di kebumen. Beruntung, dia hapal satu nomer sodaranya. Nomer sepupunya. Saya coba hubungi nomer itu. Tapi ndak diangkat. Saya hubungi lagi sampai mungkin 10 kali. Tapi juga tetap ndak diangkat. Kata si ibu mungkin sodaranya ini sedang kuliah.. Ga lama kemudian ibu itu tampak merasa sungkan dengan saya karna saya sudah mencoba membantunya. Karna sungkan, ibu itu insist kalo dia akan melanjutkan perjalanannya ke Gamping dengan jalan kaki… “arah gamping mana ya mas? sudah ndakpapa mas, saya jalan aja..” I swear, dia nyaris sama sekali ga menunjukkan ekspresi yg dapat membuat saya iba! Auranya positif dan optimis sekali. Tapi mana mungkin saya ndak iba. Lha seorang ibu, single parent, berasal dari pulau lain, mau jalan kaki puluhan kilometer bareng anak TK 😦 Selanjutnya saya antarkan ibu itu dan anaknya ke halte transjogja. Saya berikan sejumlah uang untuk dia naik bis ke terminal, lalu naik bis ke kebumen.. (semoga uangnya cukup!) Saya percaya ibu itu jujur. :”) Setelah mengantarkan ibu2 stranger tersebut ke halte, saya menuju tempat KP..

Lalu apa yang bikin kejadian ini unik? Sebelumnya saya ndak bermaksud riya’ dengan cerita begini di blog. Heheh. Sama sekali engga, insya Allah.. Poin saya di sini, kejadian ini bikin saya jadi yakin, bahwa semua hal di dunia ini ga ada yang kebetulan.. Saya sangsi kalo pilihan saya untuk menunggu di pojokan jalan, lalu bertemu seseorang yg total stranger, lalu saya membantu biaya perjalanannya ke kota lain, adalah sebuah kebetulan. Bertemunya kita dengan seseorang atau banyak orang pasti sudah diatur. Yang Maha Mengatur lah yang mengatur pertemuan2 itu… Kita dipertemukan dengan sebuah alasan. Kita dipertemukan supaya kita dapat membantu orang lain. Kita dipertemukan supaya kita dibantu. Kita dipertemukan supaya kita bisa saling belajar satu sama lain. Kita dipertemukan untuk dapat saling mengasihi satu sama lain. Untuk menumbuhkan simpati, menumbuhkan empati, memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan kebaikan2.. Saya juga percaya, Yang Maha Mengatur mempertemukan kita dengan orang lain untuk menguji kita. Sebuah ujian dalam hidup. Jenis ujian apa yang diberikan, itu tergantung kita mendefinisikannya. Ga ada yang salah dengan pertemuan. Ga ada yang kebetulan. Our time is limited, semoga kita selalu dipertemukan dengan orang2 baik. Semoga kita dapat segera mengetahui, untuk kemudian memperbaiki kesalahan2 kita, sehingga kita senantiasa jadi orang baik.

(sori ya kalo dangkal dan weird. doakan supaya kecamuk di hati saya segera membaik. ini ada band ska jazz asik, namanya sentimental moods)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s