1 + 1 = 2

Menghabiskan hari kedua di tahun 2015 dengan liburan sekeluarga besar ke Gunungkidul. Liburan bareng pakde-budhe, om-bulik, sepupu2, sepupu2 yang udah punya anak, beserta anak2nya; keponakan saya! Hahaha. Semuanya berjalan menyenangkan. Ada satu pelajaran yang saya ambil dari jalan2 ini. Tentang mengasuh anak.

Di antara keponakan2 dan sepupu2 yang lucu nan ngegemesin ini, ada satu keponakan hiperaktif bernama Jono (bukan nama sebenarnya). Jono ini laki2, masih kelas 1 SD, bocah paling hiperaktif yang pernah saya temui. Hiperaktif nya bikin kesel semua orang di sekitarnya termasuk budhe saya (neneknya), sepupu2 saya (bapak-ibunya). Semua keusilan kejahilan rengekan dan kebrutalan anak usia 6 tahun yang bisa dibayangkan ada pada si Jono ini. Hiperaktif si Jono secara engga langsung mempengaruhi level kenakalan keponakan dan sepupu lainnya yang seumuran sama dia. Di setiap tempat yang kami kunjungi di Gunungkidul, pasti si Jono ini bikin ulah yang bikin kesal anggota keluarga lain. Super ngeselin..Ttapi di satu sisi, si Jono ini sungguh mesakake.

Kalo si Jono udah berbuat ulah, amarah nenek, tante, dan ibunya mudah sekali terpantik. Bentakan, omelan, hingga jeweran selalu dengan mudah meluncur terarah ke Jono yang baru masuk SD taun lalu. Terkadang kekesalan terhadap Jono sudah di luar batas. Orang-orang yang mengasuh dia jadi sentimen ke dia. Komentar verbal negatif yang menurut saya menyakitkan hati sering terucap mengarah ke Jono yang tampaknya juga cuek aja sama komentar2 negatif yang dia terima. Padahal, kata ibu saya, semua komentar negatif yang dilontarkan ke seorang anak akan berdampak negatif pada anak tersebut. Menurut buku Quantum Learning yang pernah saya baca, setiap harinya seorang anak menerima ratusan komentar negatif dari lingkungan sekitarnya, berbanding terbalik dengan sedikitnya jumlah pujian yand dia terima. Hal ini terjadi juga pada Jono, selama saya perhatikan, pujian yang dia terima setiap harinya sangat sangat sedikit sekali dibanding omelan dan cacian yang dia terima. Kasihan… 😦

Di sini saya jadi sadar, mengasuh anak bukanlah perkara mudah. Butuh kesabaran super duper mega ultra ekstra juga kepiawaian khusus dalam hal ini. Tidak hanya mengasuh anak hiperaktif saja. Semua anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian sama besarnya yang dibungkus dalam kesabaran yang luar biasa tinggi. Membentuk karakter anak itu tidak dimulai ketika kita mengajarkan values ketika dia sudah bisa bergerak kesana-kemari. Tapi sejak kita memberikan makanan pertamanya bahkan ketika anak itu masih di dalam kandungan belum mbrojol ke dunia. Doa-doa yang disematkan kepada anak itu sama pentingnya dengan makanan yang kita suapkan dan values yang kita ajarkan kepada anak. Ketika anak kita memiliki siblings atau saudara kandung, orang tua harus berikan perhatian sama besarnya dengan yang diberikan kepada saudaranya. Jangan pernah anakemas-kan anak, se-emas apapun anak itu. Anak kecil yang sedang berkembang itu gampang sekali kecewa. Meskipun gampang ceria lagi, tapi kekecewaan yang ia rasakan bakal ia kenang terus sampai dewasa. Bisa jadi, ketika dewasa kelak, si anak  ga akan memaafkan kekecewaan yang pernah dia rasakan. Imej seseorang dalam memandang dunia dibentuk dari kekecewaan dan kebahagiaan yang ia peroleh waktu kanak-kanak. Ga percaya? Banyak contohnya di sekitar kita kalo kita mengamati..

Seenggaknya ini yang saya pelajari dari orang tua-orang tua mengasuh anak-anaknya yang masih kecil kemaren. Mengasuh anak untuk membentuk anak yang baik butuh kekuatan luar biasa dari Sang Pemberi Amanah Anak. Semoga ketika Jono dewasa kelak, ia mau memaafkan kekhilafan orang-orang terhadapnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s