be kind. and remember people’s kindness.

April 8, 2015

Mungkin sudah jadi tabiat manusia untuk lebih mudah mengingat keburukan manusia lain dibanding kebaikannya. Coba ingat-ingat lagi, ketika nama seorang teman disebut, mana yang lebih mudah kamu ingat, kebaikannya atau keburukannya? :p Jujur, saat ini saya lebih mudah untuk mengingat keburukan seseorang dibanding kebaikannya. šŸ˜¦ Malam ini seolah saya disadarkan bahwa tabiat ini harus dikikis mulai sekarang.

Saya yakin, sejatinya setiap orang ingin berbuat baik ke orang lain apapun bentuknya. Entah dia orang berkedudukan tinggi maupun rendah, atau orang dengan harta berlimpah maupun seadanya.. Mengapa? Karena act of kindnessĀ kelak menumbuhkan rasa bahagia yang berefek pada hidup yang lebih nyaman. Jika memori kita masih cukup baik untuk mengingat, sesungguhnya orang di sekitar kita rajin mencurahkan kebaikan kepada sesama -termasuk kita- walau mungkin besarnya tidak seberapa. Sebagian orang yang kerap kita jumpai bahkan mencurahkan lebih dari sebuah kebaikan pada kita secara rutin. Yakin kamu ndak ingat?

Tapi tetapi tapi, kebaikan orang yang jumlahnya tidak sedikit tadi dengan gampangnya kita jebloskan ke kuburan memori saat yang bersangkutan mempertunjukkan kesalahannya. Kesalahan yang bisa jadi tidak secara sadar dilakukan. Khilaf yang sangat mungkin terletup. Namun hati kita yang lemah sudah cukup merasa dicederai oleh sebongkah salah atau khilaf tersebut. Berujung dengan rasa kesal bercampur kecewa mendorong kita untuk mengingat-ingat kesalahannya, selalu. Layaknya pepatah “panas setahun dihapus hujan sehari”. Klise, memang. Tapi lumrah terjadi.

Selain karena kesalahan atau khilafnya, kadang kita juga melupakan kebaikan seseorang hanya karena ketidakcocokkan sebagian karakter orang tersebut dengan karakter kita. Orang yang bicaranya cepat dengan kadang sedikit bernada tinggi mungkin terlalu mudah untuk tidak kita sukai meski orang ituĀ rajin bersedekah juga berbagi ilmu. Namun seyogyanya hal itu tak lantas membuat kita memutuskan untuk menghilangkan memori tentang kebaikannya dari dalam kepala. Membuat kita terus-terusan mengingat bahkan membicarakan karakter yang menurut kita “kurang pas”.

Jujur, saat ini saya lebih sering berlaku seperti ini. šŸ˜¦

Mengingat keburukan orang itu mudah karena shaytan tidak pernah alpa menggoda manusia ke jalan yang salah. Semudah itu pula diri kita dibuat merasa tak nyaman akibat mengingat keburukan yang tidak seberapa. Alih-alih keburukan orang itu lenyap, rasa tak nyaman dalam hati justru memicu risau kesedihan. Jika saja kita lebih mudah mengenang kebaikan orang dibanding keburukannya, insya Allah rasa nyaman bakal lebih sering lagi mampir di hati yang lemah ini. Akan lebih baik lagi jika kita menggerakkan lisan dan badan kita untuk menasihati orang yang (mungkin saja) sedang berbuat khilaf atau salah. Mengenang dan membicarakan keburukan seseorang tak akan melenyapkan keburukannya. Sementara nasihat yang disampaikan melalui cara yang baik akan lebih bermanfaat menciptakan situasi lebih kondusif. Allah SWT dalam kitabnya sudah mengedukasi makhluk-Nya untuk saling menasihati demi hidup yang beruntung. Coba baca Surah Al-Asr di juz 30. šŸ™‚

Tapi tetapi tapi, akan datang satu masa dimana kebaikan seseorang akan relatif mudah dikenang dibanding keburukannya. Yakni pada saat yang bersangkutan wafat, meninggalkan dunia untuk selamanya. Contoh mudahnya bisa dilihat di media akhir-akhir ini pada kisah presenter Olga yang wafat di usia 30-an. Semasa hidupnya, banyak cercaan terhadap Olga di media sosial akibat perilakunya yang agaknya kurang cocok dengan sebagian masyarakat. Perilaku kurang baik Olga dan cercaan terhadapnya sangat mudah diingat orang pada saat itu. Kini, setelah Olga wafat, perilakuĀ baik Olga diungkap lebih luas lagi sehingga orang-orang diingatkan akan kebaikan yang jumlahnya ternyata tidak sedikit.. Saya berkesimpulan bahwa kebaikan seseorang kelak akan lebih mudah diingat pada saat orang tersebut meninggal dunia..

Semoga kita semua senantiasa dijadikan Allah sebagai makhluk yang lebih mudah mengenang kebaikan orang lain dibanding keburukannya. Apa kita harus menanti seseorang sampai meninggal dulu baru kita lebih mudah mengingat kebaikannya? Engga mau kaya gitu kan?

Wallahu alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: