2015: a proper closure.

December 10, 2015

Kecuali akhirat yang kekal, selalu ada akhir dari setiap permulaan. Tahun 2015 pun demikian. Sebuah tahun luar biasa bagi sejumlah penduduk bumi, salah satunya saya. Masih segar dalam ingatan kita soal hubungan mesra Ayu Ting-ting dan Shaheer yang sayangnya  berakhir tidak tragis. Mengapa mereka ndak menikah saja? Bukannya itu akhir yang lebih baik? Mengapa Shaheer main sinetron ANTV melulu? Sejumlah pertanyaan yang hingga kini masih bercokol di kepala para ibu2 komplek penghobi infotainment. Tapi tentu kita ndak akan bahas asmara Ayu Ting-ting di sini karena ini blog saya. Hehe hehe hehe he. Jayus sekali.

Namun, tragis buat saya, karena tahun 2015 harus diawali dengan berakhirnya hubungan spesial dengan mbak mantan. Huft. Secercah shock plus kegelisahan kurang bermutu menghiasi hari-hari di awal tahun akibat hubungan yang gagal direkonsiliasi tersebut. Selama beberapa pekan (bahkan bulan), serangan pertanyaan interogatif “iih kenapa (di)putuuus(in)?” bertubi-tubi dari teman sejawat serta rencang kuliah tak pelak diarahkan ke muka saya. Jawaban pertanyaan itu sebetulnya sederhana: “yah gitu lah bro, namanya juga nasib..” 😦

 

baver

 

Bulan-bulan awal 2015 dipenuhi melankolia bikin saya ndak semangat dalam berpartisipasi memajukan negeri ini. Di ranah akademis, kegiatan kerja praktek  yang super gabut terhenti disebabkan saya sedang dalam state ngelokro abis. Laporan kerja praktek atau KP yang sejatinya bisa segera selesai terpaksa mangkrak. Faktor dosen pembimbing KP juga sih. Kebetulan saya dapat dosen pembimbing yang banyak maunya, bikin lumayan repot merampungkan KP yang cuma diganjar 1 sks ini. Progress gawean skripsi turut mandeg. Biasanya ketemu dosen pembimbing skripsi 2 minggu sekali, sekarang 1 bulan sekali. Progressnya ndak jelas. BAB 1 hampir acc, BAB 2 dan BAB-BAB berikutnya masih ibarat puzzle belum terpecahkan. Coba mendamaikan diri, saya bervakansi ke pantai mencari hiburan. Rekreasi ke puncak gunung mencari ketenangan juga tak dilewatkan. Ujung-ujungnya tetep kurang terhibur dan kurang tenang juga. Haha. Kesedihan yang menggelayut bak awan mendung coba dikompensasi dengan memposting hal-hal ndak berfaedah di sosial media. Sesuatu yang belakangan saya sesali karena buat apa brooo ngepost2 gituan payah bener lu, hahaha. Untung ngudat-ngudut, nyimeng atau ngebir2 ndak saya lakukan saat berusaha memusnahkan kegalauan ini. Selain harganya ndak pas buat kantong, siapa juga yang mau ngajakin nyimeng. Yeah. Namun, sungguh, saya ndak bermaksud menyalahkan mbak mantan atas kekacauan2 di atas. Di masa2 itu kadang saya cuma gagal ngumpet aja. Hehe. Wajar aja sih kalo diputusin, wong level kegantengan saya stuck di situ2 aja, kalaupun nambah ndak pernah signifikan. Huft. Bersyukur bisa dapet pengalaman hubungan gagal di awal usia 20-an, jadi ke depan bisa lebih baik lagi menghandle sebuah hubungan biar ndak gagal2 lagi.. Insya Allah. Yeay!

 

Processed with VSCOcam with hb1 preset

 

Awal tahun ini pula, musholla dekat rumah saya bikin kegiatan baru: TPA anak-anak. Setelah program pengajian tiap pekan untuk bapak2 dan ibu2 sakses dijalankan, kini saatnya program untuk para bocah. TPA di sini bukan Tempat Pembuangan Akhir bro, tapi Taman Pendidikan Al-Qur’an. Keren banget yak istilahnya. Melalui sarana ini, anak-anak usia TK-SD yang tinggal di sekitar musholla belajar mengaji tiap sore di akhir pekan. Alhamdulillah. Ini jadi salah satu milestone bagi lingkungan sekitar musholla yang notabene warganya masih banyak butuh bimbingan spiritual. Saya turut partisipasi di TPA dengan ngajarin adek-adek TK-SD baca iqro dan Qur’an. Buat yang belom pernah ngajar TPA, ketahuilah, ngajar TPA itu menyenangkan! Apalagi saat ingat janji Allah bahwa “sebaik-baik dari kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada yang lain.” Rasa senang karena ngajar TPA juga sedikit bikin lupa tentang kegalauan2 yang kurang berfaedah. Hehe. Alhamdulillah. Semoga saya selalu ikhlas hanya mengharap ridho-Nya saat berbagi ilmu dengan anak2 mengaji. Aamiin.

 

IMG_1351

 

Bulan ketiga tahun ini, ada teman memberitahu bahwa sebuah perseroan BUMN membuka lowongan gawean bagi calon-calon budak korporat alias pegawai alias karyawan. Dalam lowongan disebutkan kalo mahasiswa yang masih nggarap skripsi boleh ikut seleksi. Bermodalkan IPK pas-pasan dan BAB 2 skripsi belom di-acc dosen, saya pun mendaftar. Lumayanlah bisa ikut iseng-iseng berhadiah. Sejatinya belum ada cukup niatan buat nggarap skripsi di semester itu. IPK yang masih belom layak dipamerkan di depan calon mertua bikin saya masih ingin mengulang-ngulang kuliah dulu.. Pfft. Namun melihat mbak mantan sudah merampungkan skripsinya di September tahun sebelumnya, saya terpacu, atau lebih tepatnya tersindir, untuk mulai cari-cari dosen pembimbing skripsi.. (waktu itu cari dosennya pas masih sama mbak mantan). Pfft pffffftt. Cari dosennya di akhir tahun lalu, tapi skripsi baru mulai digarap di awal tahun ini. Haha. Oke. Balik lagi ke seleksi pegawai BUMN.. Tahap awal seleksi adalah GAT atau General Aptitude Test. Semacam tes potensi akademik gitu. Alhamdulillah saya lolos. Lalu dengan ndak disangka-sangka atau diperkirakan, tahap demi tahap seleksi pegawai sakses dilewati sampai tibalah pada tahap akhir yakni wawancara. Wawancara kerja yang pertama kali banget buat saya! Woohoo! Excited dan nervous bercampur layaknya es campur sebelum mengikuti tes wawancara ini. Selama ini mentok2 cuma ikut wawancara seleksi kepanitiaan atau organisasi level kampus, akhirnya kesampaian juga diwawancara psikolog beneran. Ndak banyak ekspektasi pada tes wawancara ini. Di tiap tahap seleksi, porsi rasa pesimis selalu dibuat lebih besar ketimbang optimis untuk menghindari kecewa berlebih jika ternyata harus terjegal di salah satu tahap. Bisa lolos sampai tahap wawancara sudah jadi capaian luar biasa buat saya. Syahdan, tibalah hari wawancara yang dilaksanakan di bulan Ramadhan mendekati lebaran. Pewawancara yang berjumlah 2 orang kebanyakan mendasarkan pertanyaan2nya pada curriculum vitae yang saya ajukan. Menariknya, pewawancara bapak2 dari pihak perusahaan (atau user) tertarik dengan cerita kegiatan mengajar TPA di kampung. Cita-cita untuk menjadikan pengalaman kormasit KKN sebagai modal cari kerja pun terwujud, karena pewawancara juga tertarik sama pengalaman ini. Hahaha. Wawancara berjalan santai selama hampir 1 jam diselingi gelak tawa akibat guyonan-guyonan terceletuk. Di akhir sesi wawancara, bapak user tadi berseloroh “besok kalo sudah kerja di sini, tetap mengajar TPA ya mas..” Selorohan yang mungkin dilontarkan agar bikin saya senang aja.

Processed with VSCOcam with kk1 preset

 

Setelah menunggu nyaris satu bulan, hasil tes wawancara keluar di akhir bulan Juli. Saat sedang bersiap mendaki Gunung Ungaran, seorang teman mengabarkan bahwa saya dinyatakan lolos tes wawancara dan diterima di perusahaan tersebut! Allahu akbar! Meeen ga nyangka guwe. Seketika muncul perasaan bahagia yang ndak bisa digambarkan sampai rasanya ingin tak henti-henti bersujud syukur. Alhamdulillaaah! Pesimis yang selama ini berkecamuk dibuktikan terbalik sama Yang Maha Oke. Saya yakin keberhasilan ini ndak lepas dari cerita kegiatan ngajar TPA dan tentunya doa kedua orang tua. Mungkin kegiatan sosial sederhana macam ngajar TPA sejalan dengan core value di perusahaan yang sebagian besar bergerak di bidang pelayanan ini. Jadi nyadar.. Nah kan, selain menyenangkan dan bernilai pahala, ternyata ngajar mengaji bisa ngasih manfaat di dunia. 😀 Alhamdulillah..

Eh tapi.. Bagaimana nasib skripsi? Syarat lain agar diterima di perusahaan ini adalah menyelesaikan kewajiban wisuda bulan November. Dan ini sudah di penghujung Juli. Krisis dalam diri pun berganti: dari balada putus cinta, beralih jadi dihantui deadline skripsi (dan kerja praktek). Pfffffttt.

Juli berakhir, masuk ke Agustus. Saya bergegas menemui dosbing skripsi (akhirnya) setelah berbulan2 tak bersua beliau. Otak yang dipenuhi pikiran selo liburan kini terpaksa dijejali teori-teori geoteknik yang berkaitan dengan skripsi. Mumet! Di saat bersamaan, saya masih harus menjalani KP super gabut buat menggantikan KP mangkrak di awal tahun. Untungnya saya dapet lokasi KP berjarak sakplintengan upil dari kampus. Tapi ke-hectic-an tetap tak bisa dihindari, karena yang bisa dihindari cuma siaran gosip kisah perceraian Nassar dan Muzdalifah. Pada masa itu, saya wajib menemui dosbing KP dan dosbing skripsi secara kontinyu. Rutinitas datang ke tempat KP hampir setiap hari pun dijalani. Ngetak-ngetik, baca ini-itu, ngeprant-ngeprint di fotokopian, bolak-balik kampus-KP jadi makanan tiap hari. Syukurlah, kedua dosbing ini ndak termasuk golongan dosen yang hobi sibuk di luar kampus. Entah bagaimana nasib saya seandainya salah satu dosen rutin menghilang dari kampus. Bisa-bisa saya gantung laptop. Hueheuheuheuhehe. Meski laporan KP belum dibikin, bulan Agustus tetap berjalan selo. Hahaha. Kesalahan memprediksi progress bimbingan skripsi bikin saya terlalu larut kebingungan memilih teori dan rumus yang harus dipakai. Skripsi berjalan lambat.

 

KP-2

 

Memasuki September, kegiatan lapangan KP akhirnya rampung juga. Kini saatnya membuat laporan KP! Ternyata berat kalo harus memikirkan laporan KP dan skripsi di saat bersamaan. Jadi saya prioritaskan laporan KP dulu sambil skripsi digarap sedikit demi sedikit. Selama kurang lebih semingguan saya coba kelarin tuh laporan KP. Bikin kzl karena capek sekali berjam-berjam mantengin Microsoft Word doang cuma buat masukin gambar2 lapangan dan menyusun seabrek kalimat laporan. Penyelesaian urusan KP pun ndak mulus layaknya pantat bayi. Revisi dan revisi dan rikues aneh2 dari dosen jadi awal rasa frustrasi di penghujung kuliah sarjana ini. Di saat bersamaan, skripsi mulai masuk ke BAB 5 yang jadi inti skripsi saya. Super duper mumet! Buat kamu yang belom kelar kuliah, percayalah, mitos beratnya masa akhir kuliah itu memang benar adanya. Di saat mumet2 KP dan skripsi, berhembus isu di jurusan bahwa batas akhir pendadaran adalah 15 Oktober. Lewat tanggal itu, silakan ikut wisuda periode berikutnya! Oh God, I’m dead now. Mendengar hal tersebut, hati saya sungguh kacau layaknya momen meletusnya balon hijau dalam bait lagu balonku. Berarti saya cuma punya waktu sebulan buat nggarap bagian paling krusial dalam skripsi ini! 😦 Belum lagi urusan laporan KP.. Setelah berusaha lobi2 bapak dosbing, laporan KP akhirnya rampung di awal Oktober.

Awal Oktober jadi masa-masa kritis bagi mahasiswa yang kepingin wisuda November. Saat itu pesimis sudah memenuhi kepala. Parahnya, dosbing skripsi terkesan ndak mendukung saya untuk bisa wisuda November. Hasil hitungan BAB 5 direvisi dan direvisi dan direvisi terus. Penulisan tanda baca dan susunan kalimat yang kurang pas juga wajib diperbaiki walau salahnya cuma sedikit. Mulai frustrasi. Apa mungkin saya yang ndak cukup cerdas untuk topik skripsi ini?

“pak, kira2 saya bisa ikut wisuda bulan November ndak ya? saya berharapnya bisa pak, saya sudah diterima kerja..”

“ya pokoknya dikejar terus mas. kalo ndak bisa ikut wisuda, kan masih ada SKL..” jawab pak dosbing skripsi dengan santainya.

SKL di sini adalah Surat Keterangan Lulus yang dikeluarkan pihak jurusan sebelum ijazah diberikan. Sementara yang saya butuhkan adalah ijazah, SKL saja ndak cukup. Padahal ijazah keluarnya cuma pas wisuda. Berarti kalo skripsi ndak rampung bulan Oktober ini, maka saya ndak bisa wisuda November, dan.. good bye deh pekerjaan baru. 😦 Berarti kalo ndak wisuda November, saya harus cari pekerjaan lagi. Dengar2, untuk lolos jadi pegawai di BUMN ini perjuangannya ndak mudah. Ada yang ikut seleksi 3-4 kali baru diterima. Saya pun jadi merasa di bawah tekanan. Merasa eman2 sekali kalo calon pekerjaan pertama harus dilepas karena masalah skripsi belom kelar. Sedih, takut, kesal, marah, campur jadi satu. Apa kali ini saya mendingan ngebir2 dan nyimeng aja? Hahahaha. Gak lah. Beruntung saya dipertemukan dengan teman2 kuliah yang sholeh yang senantiasa ngajak saya ke kajian2 ilmu agama. Belajar ilmu islam lebih mendalam bikin hati tenang. Pernah suatu kali saat merasa sangat terpuruk karena stuck dalam skripsi, saya ikut kajian di Masjid Syuhada’ yang sedang ngebahas tawakal. Ustadznya kebetulan dari arab saudi, suatu waktu menyampaikan hadist kurang lebih bunyinya begini, “Jika kalian benar2 bertawakal dengan sebenar-benar tawakal, maka Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana burung yang pergi di pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut terisi.” Benar-benar hadist dahsyat yang meluluhkan kekhawatiran akan skripsi yang belum jelas ujungnya. Kesedihan memang belum beranjak pergi, namun sejak saat itu saya mencoba ikhlas jika ternyata ndak bisa wisuda November. Saya mencoba ikhlas jika ternyata batal jadi calon pegawai BUMN ini. Insya Allah akan ada rezeki lain. Tawakal! 🙂

15 Oktober 2015, tanggal yang disebut sebagai batas akhir pendadaran, skripsi saya rampung sudah. Dosbing skripsi sudah acc draft skripsi dan naskah seminar. Namun urusan administrasi skripsi di bagian akademik belum juga kelar sehingga belum bisa memastikan tanggal seminar apalagi tanggal pendadaran. Lewat tanggal 15, mahasiswa yang belum pendadaran ternyata masih bisa ikut wisuda November. Syaratnya, kelengkapan wisuda sudah dikumpulkan di fakultas paling lambat tanggal 27. Namun di tanggal 20, administrasi skripsi saya masih juga tertahan di bagian akademik.. Saya pasrah. Apapun hasilnya kelak, bisa wisuda November atau tidak, insya Allah saya terima dengan dada seluas lapangan bola kek lagu sheila on 7.

Lalu pertolongan Allah datang di tanggal 21 Oktober. Di hari itu administrasi skripsi kelar dan saya tau siapa dosen penguji skripsi saat pendadaran nanti. Di jurusan saya, tanggal seminar dan pendadaran ditentukan kesepakatan mahasiswa dan dosen2 pembimbing+penguji. Saya langsung bergegas menemui dosbing skripsi dan kedua dosen penguji buat cari tanggal seminar dan pendadaran. Nekat, saya minta kepada semua dosen untuk seminar dan pendadaran di pekan itu juga, padahal itu sudah hari Rabu. Hahaha. Saya jelaskan kalo saya harus wisuda November sementara batas akhir yudisium sudah super mepet. Alhamdulillah, semua dosen mau memahami situasi saya karena sungguh di luar dugaan, saya diijinkan untuk seminar besok paginya! Tidak hanya seminar esok hari, saya juga diijinkan sidang pendadaran tepat setelah seminar skripsi selesai. Jadi jam 7 pagi seminar, jam 8 langsung pendadaran.. Allahu akbar! Seminar dan pendadaran di hari yang sama (apalagi tanpa jeda) merupakan hal sangat langka di jurusan saya. Rabu sore tanggal 21 Oktober jadi salah satu sore paling hectic dalam hidup. Alhamdulillah, ada teman2 super duper baik yang sukarela membantu persiapan seminar dan pendadaran. Persiapannya tidaklah simpel karena melibatkan urusan ruangan dan banyak makanan. Hahaha. Jazakallah wahai teman2!

22 Oktober 2015, saya cuma tidur 2 jam karena harus menyiapkan bahan presentasi seminar. Jam dinding belum juga menunjukkan pukul 6 pagi saat saya memacu motor ke kampus untuk mencatatkan rekor berangkat paling pagi. Singkat cerita.. Persiapan ini, persiapan itu. Jam 7 presentasi seminar di depan dosen dan mahasiswa. Lanjut pendadaran. Waz wiz wuz wez woz… Dan.. Alhamdulillah, jam 10 pagi urusan seminar dan pendadaran saya kelaaar! Masya Allah. Lagi-lagi perasaan bahagia yang ndak tergambarkan membuncah dalam hati. Definitely best day ever. Keluar ruang pendadaran, nyaris kaga ada yang ngasih ucapan selamat atau bouquet bunga layaknya mahasiswa kelar pendadaran. Ini mesti gara2 notifikasi pendadaran yang super ndadak. Hiks. Atau memang saya kurang populer dan teman saya cuma dikit? Hahaha. Untunglah teman2 KKN dan teman2 SMA yang super baik (dan selo) menyempatkan datang sehingga euforia pasca-pendadaran saya tidak flowerless. :’) Pfffffttt.

 

dadar

sepi bunga. pfft

 

Pasca pendadaran, saya diijinkan menyelesaikan dulu administrasi wisuda sebelum revisian ke bapak-bapak dosen. Ini juga hal yang langka karena ndak semua dosen mau mendahulukan urusan administrasi sebelum revisian skripsi selesai. Tanggal 26 Oktober, tepat sehari sebelum deadline, urusan kelengkapan wisuda di fakultas rampung sudah. Sesuatu yang ndak terbayangkan sepekan sebelumnya. Masya Allah. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan yang banyak, wahai bapak-bapak dosen!

Hingga akhirnya tibalah di bulan November. Alhamdulilllah. Ayah-ibu saya bisa hadir di prosesi wisuda pertengahan November. Perjuangan 4 tahun mengenyam pendidikan sarjana kini usai sudah. Suatu wisuda yang baru direncanakan di akhir bulan Juli. Hahaha. Di hari itu, semua beban yang selama ini menyesakkan dada dan memberatkan kepala diangkat oleh Allah ta’ala. Menyisakan senyum bahagia dan senyum bahagia. Kebetulan ayah dan ibu juga jebolan kampus ini. Dulu mereka diwisuda di gedung pusat universitas atau balairung. Di hari itu, setelah prosesi selesai di gedung GSP saya membawa mereka bernostalgia di gedung tempat mereka wisuda dulu. Ibu yang dulu menemani ayah wisuda, dan ayah yang dulu menemani ibu wisuda, kini di tempat yang sama mereka berdua menemani salah satu anaknya diwisuda. Subhanallah. Di hari itu, air muka kedua orang tua yang memasuki usia paruh baya ini tampak selalu cerah. Jadi begini ya, rasanya membahagiakan orang tua.. :’)

 

Processed with VSCOcam with a6 preset

 

Kelar wisuda, ga ada tanggungan lagi. Ga ada garapan lagi. Gabut total! Hahahaha. Astaghfirullah. Hari-hari yang biasanya diisi kekhawatiran KP dan skripsi bertransformasi jadi hari-hari bangun siang lalu sibuk main COC sambil bermalas-malasan. Gara2 jomblo juga sih. Pfft. Kegiatan setelah wisuda adalah menunggu waktu keberangkatan training kerja sekitar pertengahan Desember. Alhamdulillah, teman2 yang sholeh masih setia ngajak saya ikut kajian ilmu sehingga kegabutan di masa2 ini sedikit ada manfaatnya.

Yak.

Daaaaaaan…

Demikianlah cerita saya di tahun 2015. Banyak sekali hikmah yang direngkuh dalam perjalanan yang (tidak) dramatis ini. Baper ndak ketulungan di awal tahun berganti jadi bahagia bertumpuk di akhir tahun. Sedih, susah, senang, bingung, takut, gembira, bahagia mengisi hati silih berganti ibarat antrian. Sedih dan susah yang datang mempersuasi saya untuk lebih dekat sama Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Dari nasihat para ustadz, saya jadi tau, bahwa pada hakikatnya manusia memang diciptakan untuk selalu dalam keadaan bersusah payah. Sedih dan susah yang senantiasa menjangkit bukan ndak ada obatnya. Obat kesedihan ada banyak. Salah satu yang paling mudah adalah dengan mengingat Yang Maha Oke: Allah ta’ala. Susah payah yang dialami tahun ini membawa saya ke jalan yang lebih mantap dalam mempelajari dan mengamalkan ilmu2-Nya, insya Allah. Semoga saya selalu istiqomah di jalan ini, karena dunia yang penuh tipu daya akan sangat mudah bikin kita terpuruk dalam jurang kesengsaraan. Harta dan kemampuan yang berlimpah bukan jaminan bisa hidup senang bro. Sooner or later, the world’s gonna upset you. Dan sekali lagi, obat yang paling ultimate untuk semua jenis kesedihan dan susah payah cuma satu: Allah subhanahu wa ta’ala.

Kini Desember telah tiba. Saat menulis blogpost ini, saya sedang beberes alias packing barang2 yang akan dibawa training kerja beberapa hari lagi. Ini jadi milestone pribadi karena akhirnya setelah lebih dari 22 tahun tinggal bersama ibu, now I’m going to live on my own. Saya akan pergi merantau, bertanggungjawab sama diri sendiri, cari makan sendiri, cari nafkah, cari penghidupan, cari modal nikah. Hahahaha. Akhirnya ya.. Ndak terasa sudah lebih dari tahun 10 tahun saya tinggal di Jogja. Orang-orang yang saya sayangi dan pedulikan hampir semuanya tinggal di sini. Keluarga dekat, keluarga besar, teman2 sekolah, teman2 mencari ilmu dunia, teman2 mencari ilmu akhirat. Hampir semua pokoknya di sini lah. Meski ndak lahir di Jogja, tapi hati ini sudah menetapkan bahwa Jogja adalah kampung halaman tempat kembali. Sejauh apapun saya pergi, saya cuma mau pulang ke tempat ini. Karena Jogja adalah rumah yang hangat. Karena Jogja adalah rumah paling nyaman. Cieeh.

 

tugu

 

Semoga kelak saya jadi orang orang sholeh nan hebat yang hidup berkecukupan, sehingga jarak dan waktu ndak lagi jadi masalah buat saya pulang ke Jogja. Semoga semua berjalan indah. Semoga juga bagimu. Semoga Allah meridhoi jalan ini. Semoga di tahun 2017 kelak, mbaknya mau saya ajak bersama-sama menggenapkan setengah agama… di Jogja ini. 🙂

Blah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: