kala nyesek berbuah nikmat

February 6, 2017

Di dua hari terakhir ini, saya menangis lebih banyak dibandingkan frekuensi menangis di enam bulan sebelumnya. Rasanya tak penting dijelaskan kenapa saya menangis. Saya cuma ingin bercerita kalo ternyata after effect dari menangis itu nikmat. Rasul SAW pernah bersabda “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim) Sepertinya kita memang butuh menangis. Karena menangis itu melembutkan hati sementara banyak tertawa membuat sebaliknya.

Alhamdulillah, saya bisa menangis hari ini. Menangis memang sungguh melegakan. Ada emosi tidak enak mengendap yang hanya bisa dikeluarkan lewat menangis. Luapan emosi itu membuat kita tertunduk lemah. Lemas. Hingga di suatu titik menangis bisa menyadarkan saya: bahwa manusia memang bagaikan serpihan biskuit khong guan di sabuk saturnus. Tak berdaya. Rentan lemah menghadapi tumpukan beban psikologis yang menggunung. Ketidakberdayaan tersebut justru membawa hikmah untuk kembali menaruh harap hanya pada yang Maha Agung: Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Perasaan lemah saat menangis meluruhkan seluruh kesombongan yang selama ini meliputi hati. Rasa sombong yang membawa kita pada penolakan terhadap kebenaran, membuat hati menjadi keras, sehingga sulit menerima nasihat dan hidayah yang datang. Menangis pula yang memudahkan kita untuk mengungkap memori tersembunyi akan dosa-dosa yang selalu kita tutupi. Membawa kita pada level iman yang sadar bahwa dosa kita harus segera dihapus, kesalahan harus diperbaiki, sebelum malaikat maut datang ke kita guna menunaikan tugasnya.

After effect paling paripurna dari menangis adalah membuat hati menjadi berharap. Berharap pada Allah untuk menghapus kesedihan yang menyusup dalam hati. Pada akhirnya, hati yang berharap pada Allah tersebut meringankan kita dalam menjalani ibadah yang khusyuk. Memudahkan kita melaksanakan sunnah juga menghindari hal-hal tidak bermanfaat. Pengakuan kelemahan diri yang hadir dalam hati membuat kita takut untuk berbuat dosa di saat bersama-sama maupun sendiri.

Saya tidak memungkiri bahwa saya masih kerap berlaku munafik. Masih suka bilang A tapi berlaku B. Semoga kesadaran saya hari ini akan menjadi pengingat bagi diri sendiri di masa depan. Bahwa diri saya itu lemah tanpa-Nya. Bahwa membuat hati yang selalu mengharap kepada-Nya adalah cara terbaik menjalani hidup. Bahwa menangis yang menyesakkan dada itu menghadirkan rasa nikmat dan damai setelahnya.

Ihdinassiratal mustaqim. Semoga kita selaku dimudahkan untuk terisak menangis dalam mengingat dosa. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah menyelamatkan kita dari api neraka.

Sambel tempe.

February 11, 2016

Pengen pulang ke rumah. Tiba di rumah ba’da zuhur dalam keadaan ngantuk yang memaksa diri untuk tidur siang. Bangun tidur pukul 14.30. Lanjut makan siang pakai lauk telur dadar plus sambel tempe bikinan ibu sambil ngobrol sama ibu di depan tivi.

Selesai makan siang, mandi sore, lalu menuju ke musholla dekat rumah untuk sholat ashar yang (mencoba) khusyuk.

Ba’da ashar, menyapu pelataran musholla dan menggelar tikar serta menata meja-meja untuk digunakan pengajian anak-anak. Pukul 16.00 mulai mengajar anak-anak mengaji dan belajar ilmu agama. Membaca iqro’ atau qur’an. Mempelajari ibadah atau adab. Lalu pulang ke rumah pukul 17.00 untuk istirahat sejenak sebelum sholat maghrib berjamaah di musholla..

 

—–

 

Saya belum pernah se-lama ini tidak pulang ke rumah. You know, it’s wonderful to have someplace called home.

Semoga sehat selalu ya, bu.

2015: a proper closure.

December 10, 2015

Kecuali akhirat yang kekal, selalu ada akhir dari setiap permulaan. Tahun 2015 pun demikian. Sebuah tahun luar biasa bagi sejumlah penduduk bumi, salah satunya saya. Masih segar dalam ingatan kita soal hubungan mesra Ayu Ting-ting dan Shaheer yang sayangnya  berakhir tidak tragis. Mengapa mereka ndak menikah saja? Bukannya itu akhir yang lebih baik? Mengapa Shaheer main sinetron ANTV melulu? Sejumlah pertanyaan yang hingga kini masih bercokol di kepala para ibu2 komplek penghobi infotainment. Tapi tentu kita ndak akan bahas asmara Ayu Ting-ting di sini karena ini blog saya. Hehe hehe hehe he. Jayus sekali.

Namun, tragis buat saya, karena tahun 2015 harus diawali dengan berakhirnya hubungan spesial dengan mbak mantan. Huft. Secercah shock plus kegelisahan kurang bermutu menghiasi hari-hari di awal tahun akibat hubungan yang gagal direkonsiliasi tersebut. Selama beberapa pekan (bahkan bulan), serangan pertanyaan interogatif “iih kenapa (di)putuuus(in)?” bertubi-tubi dari teman sejawat serta rencang kuliah tak pelak diarahkan ke muka saya. Jawaban pertanyaan itu sebetulnya sederhana: “yah gitu lah bro, namanya juga nasib..” 😦

 

baver

 

Bulan-bulan awal 2015 dipenuhi melankolia bikin saya ndak semangat dalam berpartisipasi memajukan negeri ini. Di ranah akademis, kegiatan kerja praktek  yang super gabut terhenti disebabkan saya sedang dalam state ngelokro abis. Laporan kerja praktek atau KP yang sejatinya bisa segera selesai terpaksa mangkrak. Faktor dosen pembimbing KP juga sih. Kebetulan saya dapat dosen pembimbing yang banyak maunya, bikin lumayan repot merampungkan KP yang cuma diganjar 1 sks ini. Progress gawean skripsi turut mandeg. Biasanya ketemu dosen pembimbing skripsi 2 minggu sekali, sekarang 1 bulan sekali. Progressnya ndak jelas. BAB 1 hampir acc, BAB 2 dan BAB-BAB berikutnya masih ibarat puzzle belum terpecahkan. Coba mendamaikan diri, saya bervakansi ke pantai mencari hiburan. Rekreasi ke puncak gunung mencari ketenangan juga tak dilewatkan. Ujung-ujungnya tetep kurang terhibur dan kurang tenang juga. Haha. Kesedihan yang menggelayut bak awan mendung coba dikompensasi dengan memposting hal-hal ndak berfaedah di sosial media. Sesuatu yang belakangan saya sesali karena buat apa brooo ngepost2 gituan payah bener lu, hahaha. Untung ngudat-ngudut, nyimeng atau ngebir2 ndak saya lakukan saat berusaha memusnahkan kegalauan ini. Selain harganya ndak pas buat kantong, siapa juga yang mau ngajakin nyimeng. Yeah. Namun, sungguh, saya ndak bermaksud menyalahkan mbak mantan atas kekacauan2 di atas. Di masa2 itu kadang saya cuma gagal ngumpet aja. Hehe. Wajar aja sih kalo diputusin, wong level kegantengan saya stuck di situ2 aja, kalaupun nambah ndak pernah signifikan. Huft. Bersyukur bisa dapet pengalaman hubungan gagal di awal usia 20-an, jadi ke depan bisa lebih baik lagi menghandle sebuah hubungan biar ndak gagal2 lagi.. Insya Allah. Yeay!

 

Processed with VSCOcam with hb1 preset

 

Awal tahun ini pula, musholla dekat rumah saya bikin kegiatan baru: TPA anak-anak. Setelah program pengajian tiap pekan untuk bapak2 dan ibu2 sakses dijalankan, kini saatnya program untuk para bocah. TPA di sini bukan Tempat Pembuangan Akhir bro, tapi Taman Pendidikan Al-Qur’an. Keren banget yak istilahnya. Melalui sarana ini, anak-anak usia TK-SD yang tinggal di sekitar musholla belajar mengaji tiap sore di akhir pekan. Alhamdulillah. Ini jadi salah satu milestone bagi lingkungan sekitar musholla yang notabene warganya masih banyak butuh bimbingan spiritual. Saya turut partisipasi di TPA dengan ngajarin adek-adek TK-SD baca iqro dan Qur’an. Buat yang belom pernah ngajar TPA, ketahuilah, ngajar TPA itu menyenangkan! Apalagi saat ingat janji Allah bahwa “sebaik-baik dari kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada yang lain.” Rasa senang karena ngajar TPA juga sedikit bikin lupa tentang kegalauan2 yang kurang berfaedah. Hehe. Alhamdulillah. Semoga saya selalu ikhlas hanya mengharap ridho-Nya saat berbagi ilmu dengan anak2 mengaji. Aamiin.

 

IMG_1351

 

Bulan ketiga tahun ini, ada teman memberitahu bahwa sebuah perseroan BUMN membuka lowongan gawean bagi calon-calon budak korporat alias pegawai alias karyawan. Dalam lowongan disebutkan kalo mahasiswa yang masih nggarap skripsi boleh ikut seleksi. Bermodalkan IPK pas-pasan dan BAB 2 skripsi belom di-acc dosen, saya pun mendaftar. Lumayanlah bisa ikut iseng-iseng berhadiah. Sejatinya belum ada cukup niatan buat nggarap skripsi di semester itu. IPK yang masih belom layak dipamerkan di depan calon mertua bikin saya masih ingin mengulang-ngulang kuliah dulu.. Pfft. Namun melihat mbak mantan sudah merampungkan skripsinya di September tahun sebelumnya, saya terpacu, atau lebih tepatnya tersindir, untuk mulai cari-cari dosen pembimbing skripsi.. (waktu itu cari dosennya pas masih sama mbak mantan). Pfft pffffftt. Cari dosennya di akhir tahun lalu, tapi skripsi baru mulai digarap di awal tahun ini. Haha. Oke. Balik lagi ke seleksi pegawai BUMN.. Tahap awal seleksi adalah GAT atau General Aptitude Test. Semacam tes potensi akademik gitu. Alhamdulillah saya lolos. Lalu dengan ndak disangka-sangka atau diperkirakan, tahap demi tahap seleksi pegawai sakses dilewati sampai tibalah pada tahap akhir yakni wawancara. Wawancara kerja yang pertama kali banget buat saya! Woohoo! Excited dan nervous bercampur layaknya es campur sebelum mengikuti tes wawancara ini. Selama ini mentok2 cuma ikut wawancara seleksi kepanitiaan atau organisasi level kampus, akhirnya kesampaian juga diwawancara psikolog beneran. Ndak banyak ekspektasi pada tes wawancara ini. Di tiap tahap seleksi, porsi rasa pesimis selalu dibuat lebih besar ketimbang optimis untuk menghindari kecewa berlebih jika ternyata harus terjegal di salah satu tahap. Bisa lolos sampai tahap wawancara sudah jadi capaian luar biasa buat saya. Syahdan, tibalah hari wawancara yang dilaksanakan di bulan Ramadhan mendekati lebaran. Pewawancara yang berjumlah 2 orang kebanyakan mendasarkan pertanyaan2nya pada curriculum vitae yang saya ajukan. Menariknya, pewawancara bapak2 dari pihak perusahaan (atau user) tertarik dengan cerita kegiatan mengajar TPA di kampung. Cita-cita untuk menjadikan pengalaman kormasit KKN sebagai modal cari kerja pun terwujud, karena pewawancara juga tertarik sama pengalaman ini. Hahaha. Wawancara berjalan santai selama hampir 1 jam diselingi gelak tawa akibat guyonan-guyonan terceletuk. Di akhir sesi wawancara, bapak user tadi berseloroh “besok kalo sudah kerja di sini, tetap mengajar TPA ya mas..” Selorohan yang mungkin dilontarkan agar bikin saya senang aja.

Processed with VSCOcam with kk1 preset

 

Setelah menunggu nyaris satu bulan, hasil tes wawancara keluar di akhir bulan Juli. Saat sedang bersiap mendaki Gunung Ungaran, seorang teman mengabarkan bahwa saya dinyatakan lolos tes wawancara dan diterima di perusahaan tersebut! Allahu akbar! Meeen ga nyangka guwe. Seketika muncul perasaan bahagia yang ndak bisa digambarkan sampai rasanya ingin tak henti-henti bersujud syukur. Alhamdulillaaah! Pesimis yang selama ini berkecamuk dibuktikan terbalik sama Yang Maha Oke. Saya yakin keberhasilan ini ndak lepas dari cerita kegiatan ngajar TPA dan tentunya doa kedua orang tua. Mungkin kegiatan sosial sederhana macam ngajar TPA sejalan dengan core value di perusahaan yang sebagian besar bergerak di bidang pelayanan ini. Jadi nyadar.. Nah kan, selain menyenangkan dan bernilai pahala, ternyata ngajar mengaji bisa ngasih manfaat di dunia. 😀 Alhamdulillah..

Eh tapi.. Bagaimana nasib skripsi? Syarat lain agar diterima di perusahaan ini adalah menyelesaikan kewajiban wisuda bulan November. Dan ini sudah di penghujung Juli. Krisis dalam diri pun berganti: dari balada putus cinta, beralih jadi dihantui deadline skripsi (dan kerja praktek). Pfffffttt.

Juli berakhir, masuk ke Agustus. Saya bergegas menemui dosbing skripsi (akhirnya) setelah berbulan2 tak bersua beliau. Otak yang dipenuhi pikiran selo liburan kini terpaksa dijejali teori-teori geoteknik yang berkaitan dengan skripsi. Mumet! Di saat bersamaan, saya masih harus menjalani KP super gabut buat menggantikan KP mangkrak di awal tahun. Untungnya saya dapet lokasi KP berjarak sakplintengan upil dari kampus. Tapi ke-hectic-an tetap tak bisa dihindari, karena yang bisa dihindari cuma siaran gosip kisah perceraian Nassar dan Muzdalifah. Pada masa itu, saya wajib menemui dosbing KP dan dosbing skripsi secara kontinyu. Rutinitas datang ke tempat KP hampir setiap hari pun dijalani. Ngetak-ngetik, baca ini-itu, ngeprant-ngeprint di fotokopian, bolak-balik kampus-KP jadi makanan tiap hari. Syukurlah, kedua dosbing ini ndak termasuk golongan dosen yang hobi sibuk di luar kampus. Entah bagaimana nasib saya seandainya salah satu dosen rutin menghilang dari kampus. Bisa-bisa saya gantung laptop. Hueheuheuheuhehe. Meski laporan KP belum dibikin, bulan Agustus tetap berjalan selo. Hahaha. Kesalahan memprediksi progress bimbingan skripsi bikin saya terlalu larut kebingungan memilih teori dan rumus yang harus dipakai. Skripsi berjalan lambat.

 

KP-2

 

Memasuki September, kegiatan lapangan KP akhirnya rampung juga. Kini saatnya membuat laporan KP! Ternyata berat kalo harus memikirkan laporan KP dan skripsi di saat bersamaan. Jadi saya prioritaskan laporan KP dulu sambil skripsi digarap sedikit demi sedikit. Selama kurang lebih semingguan saya coba kelarin tuh laporan KP. Bikin kzl karena capek sekali berjam-berjam mantengin Microsoft Word doang cuma buat masukin gambar2 lapangan dan menyusun seabrek kalimat laporan. Penyelesaian urusan KP pun ndak mulus layaknya pantat bayi. Revisi dan revisi dan rikues aneh2 dari dosen jadi awal rasa frustrasi di penghujung kuliah sarjana ini. Di saat bersamaan, skripsi mulai masuk ke BAB 5 yang jadi inti skripsi saya. Super duper mumet! Buat kamu yang belom kelar kuliah, percayalah, mitos beratnya masa akhir kuliah itu memang benar adanya. Di saat mumet2 KP dan skripsi, berhembus isu di jurusan bahwa batas akhir pendadaran adalah 15 Oktober. Lewat tanggal itu, silakan ikut wisuda periode berikutnya! Oh God, I’m dead now. Mendengar hal tersebut, hati saya sungguh kacau layaknya momen meletusnya balon hijau dalam bait lagu balonku. Berarti saya cuma punya waktu sebulan buat nggarap bagian paling krusial dalam skripsi ini! 😦 Belum lagi urusan laporan KP.. Setelah berusaha lobi2 bapak dosbing, laporan KP akhirnya rampung di awal Oktober.

Awal Oktober jadi masa-masa kritis bagi mahasiswa yang kepingin wisuda November. Saat itu pesimis sudah memenuhi kepala. Parahnya, dosbing skripsi terkesan ndak mendukung saya untuk bisa wisuda November. Hasil hitungan BAB 5 direvisi dan direvisi dan direvisi terus. Penulisan tanda baca dan susunan kalimat yang kurang pas juga wajib diperbaiki walau salahnya cuma sedikit. Mulai frustrasi. Apa mungkin saya yang ndak cukup cerdas untuk topik skripsi ini?

“pak, kira2 saya bisa ikut wisuda bulan November ndak ya? saya berharapnya bisa pak, saya sudah diterima kerja..”

“ya pokoknya dikejar terus mas. kalo ndak bisa ikut wisuda, kan masih ada SKL..” jawab pak dosbing skripsi dengan santainya.

SKL di sini adalah Surat Keterangan Lulus yang dikeluarkan pihak jurusan sebelum ijazah diberikan. Sementara yang saya butuhkan adalah ijazah, SKL saja ndak cukup. Padahal ijazah keluarnya cuma pas wisuda. Berarti kalo skripsi ndak rampung bulan Oktober ini, maka saya ndak bisa wisuda November, dan.. good bye deh pekerjaan baru. 😦 Berarti kalo ndak wisuda November, saya harus cari pekerjaan lagi. Dengar2, untuk lolos jadi pegawai di BUMN ini perjuangannya ndak mudah. Ada yang ikut seleksi 3-4 kali baru diterima. Saya pun jadi merasa di bawah tekanan. Merasa eman2 sekali kalo calon pekerjaan pertama harus dilepas karena masalah skripsi belom kelar. Sedih, takut, kesal, marah, campur jadi satu. Apa kali ini saya mendingan ngebir2 dan nyimeng aja? Hahahaha. Gak lah. Beruntung saya dipertemukan dengan teman2 kuliah yang sholeh yang senantiasa ngajak saya ke kajian2 ilmu agama. Belajar ilmu islam lebih mendalam bikin hati tenang. Pernah suatu kali saat merasa sangat terpuruk karena stuck dalam skripsi, saya ikut kajian di Masjid Syuhada’ yang sedang ngebahas tawakal. Ustadznya kebetulan dari arab saudi, suatu waktu menyampaikan hadist kurang lebih bunyinya begini, “Jika kalian benar2 bertawakal dengan sebenar-benar tawakal, maka Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana burung yang pergi di pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut terisi.” Benar-benar hadist dahsyat yang meluluhkan kekhawatiran akan skripsi yang belum jelas ujungnya. Kesedihan memang belum beranjak pergi, namun sejak saat itu saya mencoba ikhlas jika ternyata ndak bisa wisuda November. Saya mencoba ikhlas jika ternyata batal jadi calon pegawai BUMN ini. Insya Allah akan ada rezeki lain. Tawakal! 🙂

15 Oktober 2015, tanggal yang disebut sebagai batas akhir pendadaran, skripsi saya rampung sudah. Dosbing skripsi sudah acc draft skripsi dan naskah seminar. Namun urusan administrasi skripsi di bagian akademik belum juga kelar sehingga belum bisa memastikan tanggal seminar apalagi tanggal pendadaran. Lewat tanggal 15, mahasiswa yang belum pendadaran ternyata masih bisa ikut wisuda November. Syaratnya, kelengkapan wisuda sudah dikumpulkan di fakultas paling lambat tanggal 27. Namun di tanggal 20, administrasi skripsi saya masih juga tertahan di bagian akademik.. Saya pasrah. Apapun hasilnya kelak, bisa wisuda November atau tidak, insya Allah saya terima dengan dada seluas lapangan bola kek lagu sheila on 7.

Lalu pertolongan Allah datang di tanggal 21 Oktober. Di hari itu administrasi skripsi kelar dan saya tau siapa dosen penguji skripsi saat pendadaran nanti. Di jurusan saya, tanggal seminar dan pendadaran ditentukan kesepakatan mahasiswa dan dosen2 pembimbing+penguji. Saya langsung bergegas menemui dosbing skripsi dan kedua dosen penguji buat cari tanggal seminar dan pendadaran. Nekat, saya minta kepada semua dosen untuk seminar dan pendadaran di pekan itu juga, padahal itu sudah hari Rabu. Hahaha. Saya jelaskan kalo saya harus wisuda November sementara batas akhir yudisium sudah super mepet. Alhamdulillah, semua dosen mau memahami situasi saya karena sungguh di luar dugaan, saya diijinkan untuk seminar besok paginya! Tidak hanya seminar esok hari, saya juga diijinkan sidang pendadaran tepat setelah seminar skripsi selesai. Jadi jam 7 pagi seminar, jam 8 langsung pendadaran.. Allahu akbar! Seminar dan pendadaran di hari yang sama (apalagi tanpa jeda) merupakan hal sangat langka di jurusan saya. Rabu sore tanggal 21 Oktober jadi salah satu sore paling hectic dalam hidup. Alhamdulillah, ada teman2 super duper baik yang sukarela membantu persiapan seminar dan pendadaran. Persiapannya tidaklah simpel karena melibatkan urusan ruangan dan banyak makanan. Hahaha. Jazakallah wahai teman2!

22 Oktober 2015, saya cuma tidur 2 jam karena harus menyiapkan bahan presentasi seminar. Jam dinding belum juga menunjukkan pukul 6 pagi saat saya memacu motor ke kampus untuk mencatatkan rekor berangkat paling pagi. Singkat cerita.. Persiapan ini, persiapan itu. Jam 7 presentasi seminar di depan dosen dan mahasiswa. Lanjut pendadaran. Waz wiz wuz wez woz… Dan.. Alhamdulillah, jam 10 pagi urusan seminar dan pendadaran saya kelaaar! Masya Allah. Lagi-lagi perasaan bahagia yang ndak tergambarkan membuncah dalam hati. Definitely best day ever. Keluar ruang pendadaran, nyaris kaga ada yang ngasih ucapan selamat atau bouquet bunga layaknya mahasiswa kelar pendadaran. Ini mesti gara2 notifikasi pendadaran yang super ndadak. Hiks. Atau memang saya kurang populer dan teman saya cuma dikit? Hahaha. Untunglah teman2 KKN dan teman2 SMA yang super baik (dan selo) menyempatkan datang sehingga euforia pasca-pendadaran saya tidak flowerless. :’) Pfffffttt.

 

dadar

sepi bunga. pfft

 

Pasca pendadaran, saya diijinkan menyelesaikan dulu administrasi wisuda sebelum revisian ke bapak-bapak dosen. Ini juga hal yang langka karena ndak semua dosen mau mendahulukan urusan administrasi sebelum revisian skripsi selesai. Tanggal 26 Oktober, tepat sehari sebelum deadline, urusan kelengkapan wisuda di fakultas rampung sudah. Sesuatu yang ndak terbayangkan sepekan sebelumnya. Masya Allah. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan yang banyak, wahai bapak-bapak dosen!

Hingga akhirnya tibalah di bulan November. Alhamdulilllah. Ayah-ibu saya bisa hadir di prosesi wisuda pertengahan November. Perjuangan 4 tahun mengenyam pendidikan sarjana kini usai sudah. Suatu wisuda yang baru direncanakan di akhir bulan Juli. Hahaha. Di hari itu, semua beban yang selama ini menyesakkan dada dan memberatkan kepala diangkat oleh Allah ta’ala. Menyisakan senyum bahagia dan senyum bahagia. Kebetulan ayah dan ibu juga jebolan kampus ini. Dulu mereka diwisuda di gedung pusat universitas atau balairung. Di hari itu, setelah prosesi selesai di gedung GSP saya membawa mereka bernostalgia di gedung tempat mereka wisuda dulu. Ibu yang dulu menemani ayah wisuda, dan ayah yang dulu menemani ibu wisuda, kini di tempat yang sama mereka berdua menemani salah satu anaknya diwisuda. Subhanallah. Di hari itu, air muka kedua orang tua yang memasuki usia paruh baya ini tampak selalu cerah. Jadi begini ya, rasanya membahagiakan orang tua.. :’)

 

Processed with VSCOcam with a6 preset

 

Kelar wisuda, ga ada tanggungan lagi. Ga ada garapan lagi. Gabut total! Hahahaha. Astaghfirullah. Hari-hari yang biasanya diisi kekhawatiran KP dan skripsi bertransformasi jadi hari-hari bangun siang lalu sibuk main COC sambil bermalas-malasan. Gara2 jomblo juga sih. Pfft. Kegiatan setelah wisuda adalah menunggu waktu keberangkatan training kerja sekitar pertengahan Desember. Alhamdulillah, teman2 yang sholeh masih setia ngajak saya ikut kajian ilmu sehingga kegabutan di masa2 ini sedikit ada manfaatnya.

Yak.

Daaaaaaan…

Demikianlah cerita saya di tahun 2015. Banyak sekali hikmah yang direngkuh dalam perjalanan yang (tidak) dramatis ini. Baper ndak ketulungan di awal tahun berganti jadi bahagia bertumpuk di akhir tahun. Sedih, susah, senang, bingung, takut, gembira, bahagia mengisi hati silih berganti ibarat antrian. Sedih dan susah yang datang mempersuasi saya untuk lebih dekat sama Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Dari nasihat para ustadz, saya jadi tau, bahwa pada hakikatnya manusia memang diciptakan untuk selalu dalam keadaan bersusah payah. Sedih dan susah yang senantiasa menjangkit bukan ndak ada obatnya. Obat kesedihan ada banyak. Salah satu yang paling mudah adalah dengan mengingat Yang Maha Oke: Allah ta’ala. Susah payah yang dialami tahun ini membawa saya ke jalan yang lebih mantap dalam mempelajari dan mengamalkan ilmu2-Nya, insya Allah. Semoga saya selalu istiqomah di jalan ini, karena dunia yang penuh tipu daya akan sangat mudah bikin kita terpuruk dalam jurang kesengsaraan. Harta dan kemampuan yang berlimpah bukan jaminan bisa hidup senang bro. Sooner or later, the world’s gonna upset you. Dan sekali lagi, obat yang paling ultimate untuk semua jenis kesedihan dan susah payah cuma satu: Allah subhanahu wa ta’ala.

Kini Desember telah tiba. Saat menulis blogpost ini, saya sedang beberes alias packing barang2 yang akan dibawa training kerja beberapa hari lagi. Ini jadi milestone pribadi karena akhirnya setelah lebih dari 22 tahun tinggal bersama ibu, now I’m going to live on my own. Saya akan pergi merantau, bertanggungjawab sama diri sendiri, cari makan sendiri, cari nafkah, cari penghidupan, cari modal nikah. Hahahaha. Akhirnya ya.. Ndak terasa sudah lebih dari tahun 10 tahun saya tinggal di Jogja. Orang-orang yang saya sayangi dan pedulikan hampir semuanya tinggal di sini. Keluarga dekat, keluarga besar, teman2 sekolah, teman2 mencari ilmu dunia, teman2 mencari ilmu akhirat. Hampir semua pokoknya di sini lah. Meski ndak lahir di Jogja, tapi hati ini sudah menetapkan bahwa Jogja adalah kampung halaman tempat kembali. Sejauh apapun saya pergi, saya cuma mau pulang ke tempat ini. Karena Jogja adalah rumah yang hangat. Karena Jogja adalah rumah paling nyaman. Cieeh.

 

tugu

 

Semoga kelak saya jadi orang orang sholeh nan hebat yang hidup berkecukupan, sehingga jarak dan waktu ndak lagi jadi masalah buat saya pulang ke Jogja. Semoga semua berjalan indah. Semoga juga bagimu. Semoga Allah meridhoi jalan ini. Semoga di tahun 2017 kelak, mbaknya mau saya ajak bersama-sama menggenapkan setengah agama… di Jogja ini. 🙂

Blah..

#remindertoself

September 20, 2015

Waiting is sucks.

Menunggu adalah pekerjaan yang kurang menyenangkan. Setidaknya buat saya. Dalam suatu “menunggu” akan muncul berbagai halangan secara mental maupun fisik. Halangan, atau mungkin ujian, harus dilalui dengan sabar. Sabar!

Kesabaran itu sungguh menguras energi. Jika bisa memilih, ingin rasanya energi itu dihabiskan untuk bersenang-senang saja. Agar otak dipenuhi oleh dopamine-dopamine juga serotonin, bukan tumpukan kortisol yang bikin kita pengen menyerah saja. Tapi hidup adalah perjuangan kan? Tapi hidup adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Perjuangan untuk dunia dan sesuatu setelah dunia. Malu rasanya, ngomongin akhirat tapi setiap hari selalu menumpuk dosa dari perbuatan-perbuatan buruk yang tidak diketahui orang lain. Tapi hidup adalah perjuangan kan? Usaha keras melawan perbuatan buruk yang dilakukan diri sendiri juga sebuah perjuangan. Meski tidak keren karena perjuangan untuk diri sendiri. Cih.

Selesai menunggu, kita dihadapkan lagi pada penantian yang lain. Hidup dihabiskan dengan menunggu dan menunggu. Mengharuskan hidup ‘tuk diisi dengan bersabar dan bersabar. Sabar dan syukur! Bersyukur yang tidak sekedar diam mensyukuri. Tapi juga memenuhi diri dengan ilmu-ilmu tentang-Nya. Ilmu-ilmu ukhrowi. Bersyukur yang kelak akan bermanfaat untuk sesuatu setelah hidup.

Waiting is sucks. But Allah is always here. Semoga Allah menguatkan kita semua dalam menikmati setiap penantian. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Because Allah is always here, there, and everywhere..

No, you can not.

August 15, 2015

Malam ini iseng buka web tiket kereta api untuk melihat nama kereta yang sedang ditumpangi oleh ayah saya dalam perjalanannya ke Jogja. Keisengan berlanjut dengan membuka web reservasi tiket pesawat yang berafiliasi dengan tiket kereta. Saya coba-coba cari tau harga tiket pesawat dari Jogja ke Denpasar, Jogja ke Jakarta, Jogja ke Lombok.. dan sebagainya. Berandai-andai saya punya banyak uang dan sedang memperkirakan budget pengeluaran transportasi liburan.. Hahaha. Lumayan juga ya ternyata budget buat jalan-jalan.

Sedang iseng-iseng buka web reservasi tiket kereta dan pesawat, terbersit pikiran tentang reservasi tiket kapal online. Bisa ndak sih pesen tiket kapal di internet?

Saya googling. Menemukan web Pelni yang merupakan satu-satunya penyedia jasa layanan kapal muat orang dan barang antar pelabuhan besar. Dibanding web reservasi tiket kereta dan pesawat, web Pelni terlihat sederhana dan kurang kekinian. Di sini terdapat info tiket perjalanan kapal jarak jauh maupun jarak dekat antar pelabuhan Indonesia. Agak kecewa karena ternyata hanya menampilkan info keberangkatan kapal dan harga tiket. Tak ada tombol pesan tiket online yang umumnya disediakan di web ticketing maupun penyedia jasa transportasi.

Pikiran saya melayang. Teringat momen menikmati perjalanan menggunakan kapal Pelni berukuran jumbo untuk pertama kalinya setahun lalu. Mungkin kata ‘menikmati’ kurang tepat karena perjalanan tersebut jauh dari kata nyaman. Hahaha. Kapal yang saya tumpangi bernama KM Tidar. Belakangan saya ketahui jika kapal ini mampu mengangkut hingga 2000 orang plus beratus ton barang. Rutenya panjang, dari Tanjung Priok di Jakarta hingga Kaimana di bumi Papua. Saya menggunakan kapal ini dari Pelabuhan Ambon untuk menuju lokasi KKN saya di Banda Neira.. Cerita tentang KKN nya mungkin lain kali aja ya kalo cukup mood buat bercerita. Hehe.

neiraKembali ke web Pelni. Saya coba cari tau jadwal keberangkatan KM Tidar menuju Banda Neira yang paling dekat dengan hari ini. Hasilnya menunjukkan bahwa trip kapal ke Banda Neira terjadwal sekitar 2 pekan lagi dari Pelabuhan Ambon. Tidak seperti penerbangan Jakarta-Jogja yang ada hampir tiap jam, jadwal perjalanan kapal memang tidak menentu. Selang waktu antar keberangkatan juga bisa berminggu-minggu. Cukup ketinggalan zaman mengingat sekarang semuanya bergerak serba cepat dan dinamis. Tapi inilah situasi yang harus dihadapi masyarakat Indonesia bagian timur khususnya bagi mereka kelas menengah ke bawah. Perjalanan dari daerah terpencil menuju ke daerah ‘kota’ butuh waktu yang tidak sedikit. 😦

Pikiran saya kembali melayang. Kali ini ke masa depan. Kira-kira kapan ya saya bisa kembali ke Banda Neira sambil bernostalgia menumpangi KM Tidar? Saya rindu Banda Neira. Tempat dimana saya pernah menghabiskan 1,5 bulan berinteraksi menjalin hubungan kekeluargaan dengan warganya. Tapi… Kapan? Harus menyesuaikan dengan jadwal KM Tidar yang tidak menentu?

tidarJawabannya.. Ya, saya harus menyesuaikan jadwal saya dengan jadwal KM Tidar yang tidak menentu.

Mau tidak mau, saya tidak punya opsi lain. Saya tidak punya pilihan waktu yang fleksibel layaknya memilih jadwal keberangkatan pesawat Jogja-Jakarta. Inilah kenyataan yang harus dihadapi jika memang ingin menggunakan jasa Pelni yang relatif murah ini. Padahal, belum tentu di masa depan kelak jadwal keberangkatan KM Tidar sesuai dengan jadwal waktu senggang pekerjaan saya. Suka tidak suka, saya akan terpaksa mengorbankan waktu kerja saya yang berharga.

Saya jadi ragu di masa depan saya bisa kembali ke Banda Neira. 😦 Let alone going with friends..

Belum lagi saat saya sudah menikah nanti (ehe, aamiin). Prioritas tentu akan bertambah. Makin sulit untuk menemukan jadwal senggang berlibur ke Banda Neira yang harus disesuaikan dengan jadwal kapal/pesawat. Saya berpikir ulang.. Bisakah kelak saya kembali Banda Neira? Bisakah saya menuntaskan kerinduan saya pada pulau indah ini?

Pada poin ini saya tersadar, bahwa kita tidak mungkin membeli waktu.

Mungkin kelak di masa depan, uang tak lagi jadi masalah buat saya. Namun saya akan mempunyai masalah dengan waktu. Bisa jadi saya akan selalu punya cukup uang untuk ke Banda Neira, namun tak bisa menemukan tanggal yang tepat untuk berangkat. Entah karena kesibukan kerja, keluarga, atau lainnya. Hingga akhirnya saya semakin tua, dan cita-cita ke Banda Neira tak lagi jadi prioritas.. Terlupakan. Semata karena tak memiliki waktu.

Akan muncul suatu fase dalam hidup kita: Dimana kita sangat ingin membeli waktu. Namun berapapun jumlah uang yang dimiliki tak akan pernah cukup untuk membelinya.

Semoga itu tidak terjadi. Kalaupun harus terjadi, maka perjalanan 1,5 bulan ke Banda Neira tahun 2014 lalu merupakan mimpi indah. Mimpi yang sangat indah untuk diceritakan ke anak-cucu saya kelak..

ras rajawali

Kereta.

August 4, 2015

Pernah naik kereta api? Sebagian besar dari kita tentu pernah menikmati perjalanan dalam gerbong yang ditarik lokomotif ini.

Salah satu perasaan terbaik di dunia adalah ketika kereta api yang kamu tumpangi hampir mencapai stasiun tujuanmu. Kamu mengambil barang di rak atas tempat duduk dengan mata berbinar melihat suasana di luar kereta yang berjalan melambat hendak berhenti. Waktunya bersiap untuk turun di stasiun!

Mungkin seperti itulah rasanya tiba di masa depan yang diharapkan. Less worries, much excitement. Perjalanan beberapa jam di dalam kereta ibarat perjalanan hidup yang kebetulan juga berlangsung cepat ini.. Duduk santai dalam kereta, tak lupa membawa bekal perjalanan. Membuat pertemanan baru dengan penumpang sebelah yang baru dikenal. Berbagi cerita dengan orang asing yang ramah. Memperhatikan pemandangan melalui jendela kereta. Kadang tersuguhi pemandangan tak sedap di mata seperti tumpukan sampah. Tak sedikit terlihat pemandangan membuat ati adem seperti hamparan sawah menghijau sedang disiangi para petani.

Kadang perjalanan hidup pun seperti itu kan?

Ketika akhirnya kereta tiba di stasiun tujuan, banyak dari kita turun dari gerbong dengan bersemangat. Bersiap memulai perjalanan selanjutnya. Dimulai dari stasiun tempat kereta berhenti.

Satu tujuan telah tercapai, namun perjalanan belum berakhir di sini.

Semoga kita selalu dibimbing oleh Yang Maha Membimbing dalam mengarungi perjalanan hidup ini. May Allah guide our hearts. Now and forever..

Semoga..

June 16, 2015

Selamat datang di dunia! Sebuah tempat dimana kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan atau harapkan.

Semoga Yang Maha Oke melindungi kita semua dari penyakit hati seperti hasad (iri dengki), riya’ (ingin pamer), sum’ah (ingin dipuji), ujub (tinggi hati), kidzib (sok-sokan), su’udzon, sombong dan takabur.
Semoga Yang Maha Mendengar menjaga kita dari sifat baladah (kebodohan), perbuatan ghibah, dusta, khianat, fitnah, mengumpat, maksiat dan jinayat.
Semoga Yang Maha Mengasihi menjadikan hati kita selalu bersyukur, tidak termasuk golongan orang-orang kufur nikmat dan menjadikan kita selalu mengingat Dia kapanpun dimanapun.

Islam itu indah. Menjadi muslim itu sebuah nikmat. Dan hidup itu sesungguhnya luar biasa asoy kalo aja kita terhindar dari penyakit-penyakit hati dan perbuatan buruk di atas. Tapi namanya juga manusia kan.. Ga bisa lepas dari salah dan dosa.

Semoga kita semua selalu saling menasihati satu sama lain. Senantiasa membantu satu sama lain. Di saat susah maupun senang.

Kalo ada yang melihat saya melakukan salah satu perbuatan buruk di atas, jangan ragu untuk menasihati saya ya..

Dan terakhir.. Laa takhof wa laa tahzan, innallaha ma’ana. Jangan takut dan jangan bersedih, sesungguhnya Allah menyertai.

Muslim Words

I had pondered for a good while. What is the most apt adjective for the title of this article? Chasing? Pursuing? Wanting? No, we’re hungrier. We’re actually starving. Our very souls are craving happiness; that true form of joy that is ever so elusive. Satan has utilised this hunger and we’ve become predators, preying on every chance of satisfying the beasts within.

View original post 1,809 more words

Mungkin sudah jadi tabiat manusia untuk lebih mudah mengingat keburukan manusia lain dibanding kebaikannya. Coba ingat-ingat lagi, ketika nama seorang teman disebut, mana yang lebih mudah kamu ingat, kebaikannya atau keburukannya? :p Jujur, saat ini saya lebih mudah untuk mengingat keburukan seseorang dibanding kebaikannya. 😦 Malam ini seolah saya disadarkan bahwa tabiat ini harus dikikis mulai sekarang.

Saya yakin, sejatinya setiap orang ingin berbuat baik ke orang lain apapun bentuknya. Entah dia orang berkedudukan tinggi maupun rendah, atau orang dengan harta berlimpah maupun seadanya.. Mengapa? Karena act of kindness kelak menumbuhkan rasa bahagia yang berefek pada hidup yang lebih nyaman. Jika memori kita masih cukup baik untuk mengingat, sesungguhnya orang di sekitar kita rajin mencurahkan kebaikan kepada sesama -termasuk kita- walau mungkin besarnya tidak seberapa. Sebagian orang yang kerap kita jumpai bahkan mencurahkan lebih dari sebuah kebaikan pada kita secara rutin. Yakin kamu ndak ingat?

Tapi tetapi tapi, kebaikan orang yang jumlahnya tidak sedikit tadi dengan gampangnya kita jebloskan ke kuburan memori saat yang bersangkutan mempertunjukkan kesalahannya. Kesalahan yang bisa jadi tidak secara sadar dilakukan. Khilaf yang sangat mungkin terletup. Namun hati kita yang lemah sudah cukup merasa dicederai oleh sebongkah salah atau khilaf tersebut. Berujung dengan rasa kesal bercampur kecewa mendorong kita untuk mengingat-ingat kesalahannya, selalu. Layaknya pepatah “panas setahun dihapus hujan sehari”. Klise, memang. Tapi lumrah terjadi.

Selain karena kesalahan atau khilafnya, kadang kita juga melupakan kebaikan seseorang hanya karena ketidakcocokkan sebagian karakter orang tersebut dengan karakter kita. Orang yang bicaranya cepat dengan kadang sedikit bernada tinggi mungkin terlalu mudah untuk tidak kita sukai meski orang itu rajin bersedekah juga berbagi ilmu. Namun seyogyanya hal itu tak lantas membuat kita memutuskan untuk menghilangkan memori tentang kebaikannya dari dalam kepala. Membuat kita terus-terusan mengingat bahkan membicarakan karakter yang menurut kita “kurang pas”.

Jujur, saat ini saya lebih sering berlaku seperti ini. 😦

Mengingat keburukan orang itu mudah karena shaytan tidak pernah alpa menggoda manusia ke jalan yang salah. Semudah itu pula diri kita dibuat merasa tak nyaman akibat mengingat keburukan yang tidak seberapa. Alih-alih keburukan orang itu lenyap, rasa tak nyaman dalam hati justru memicu risau kesedihan. Jika saja kita lebih mudah mengenang kebaikan orang dibanding keburukannya, insya Allah rasa nyaman bakal lebih sering lagi mampir di hati yang lemah ini. Akan lebih baik lagi jika kita menggerakkan lisan dan badan kita untuk menasihati orang yang (mungkin saja) sedang berbuat khilaf atau salah. Mengenang dan membicarakan keburukan seseorang tak akan melenyapkan keburukannya. Sementara nasihat yang disampaikan melalui cara yang baik akan lebih bermanfaat menciptakan situasi lebih kondusif. Allah SWT dalam kitabnya sudah mengedukasi makhluk-Nya untuk saling menasihati demi hidup yang beruntung. Coba baca Surah Al-Asr di juz 30. 🙂

Tapi tetapi tapi, akan datang satu masa dimana kebaikan seseorang akan relatif mudah dikenang dibanding keburukannya. Yakni pada saat yang bersangkutan wafat, meninggalkan dunia untuk selamanya. Contoh mudahnya bisa dilihat di media akhir-akhir ini pada kisah presenter Olga yang wafat di usia 30-an. Semasa hidupnya, banyak cercaan terhadap Olga di media sosial akibat perilakunya yang agaknya kurang cocok dengan sebagian masyarakat. Perilaku kurang baik Olga dan cercaan terhadapnya sangat mudah diingat orang pada saat itu. Kini, setelah Olga wafat, perilaku baik Olga diungkap lebih luas lagi sehingga orang-orang diingatkan akan kebaikan yang jumlahnya ternyata tidak sedikit.. Saya berkesimpulan bahwa kebaikan seseorang kelak akan lebih mudah diingat pada saat orang tersebut meninggal dunia..

Semoga kita semua senantiasa dijadikan Allah sebagai makhluk yang lebih mudah mengenang kebaikan orang lain dibanding keburukannya. Apa kita harus menanti seseorang sampai meninggal dulu baru kita lebih mudah mengingat kebaikannya? Engga mau kaya gitu kan?

Wallahu alam.

Siang hingga sore tadi timeline twitter saya dipenuhi dengan foto2 yang diposting dengan menyertakan hestek #Selfie4Siauw. Kampanye untuk beramai-ramai selfie yang diinisiasi oleh seseorang yang populer di kalangan para selebtwit. (ga perlu saya sebutlah apa akunnya, cari sendiri. haha). Tujuan dari rame2 selfie tidak lain untuk mengkritisi (dan mocking?) opini Ustadz Felix Siauw mengenai aktifitas mengambil foto diri sendiri oleh diri sendiri, alias selfie, yang disampaikan di twitternya beberapa waktu lalu. Ini skrinsut twitternya:

pak siauw

Dari kultwit di atas, Pak Siauw tampak mencoba memberikan opininya tentang selfie yang saat ini sudah umum dilakukan oleh semua orang, termasuk oleh muslim dan muslimah. Menurut saya, ga ada yang salah dari pesan yang ingin disampaikan oleh Pak Siauw. Beliau mengingatkan bahaya penyakit hati ujub, riya, takabbur yang bisa terjadi akibat melakukan selfie. Buat teman2 muslim yang belum tau, sesungguhnya perkara penyakit hati bukan masalah sepele lho di dalam Islam. (saya juga belom lama tau kok. hehe.) Apa yang disampaikan oleh Pak Siauw, saya rasa juga disepakati oleh para ustadz dan alim ulama lain di dunia ini: bahwa tiga penyakit hati tersebut bisa mematikan hati dan membakar habis amal. Yang terakhir ini mengerikan bagi kaum yang percaya. Bisa ngebayangin amal2 kebaikan kita kelak di akhirat ga akan terpakai karena penyakit hati yang sering secara ga sadar kita lakukan? 😦

Namun dunia socmed itu keras. Ketidaksetujuan terhadap opini seseorang berfollower banyak bisa berakibat pada pengkritisian dalam bentuk yang kadang konyol dan tidak perlu. Menjadi miris kalo di antara orang2 yang terseret ikut kampanye hestek tersebut terdapat teman2 muslim. Apalagi Pak Siauw sedang menyampaikan pesan tentang penyakit hati yang cukup penting agar kita selamat di akhirat kelak. Menurut saya, kalo anda muslim dan tidak suka terhadap cara penyampaian Pak Siauw, lebih baik anda diam atau sampaikan ketidaksetujuan itu secara personal tanpa publisitas. Tugas sesama muslim itu saling mengingatkan, kan?

Ada yang berpendapat di twitter kalo bahan dakwahnya Pak Siauw terlalu superfisial, mengapa tidak berdakwah menjawab masalah riil di masyarakat seperti kemiskinan, kesehatan dan pendidikan. Kalo baca pernyataan seperti itu, tinggal ditanya balik aja, anda sudah pernah mencari tahu rekam jejak dakwah Pak Siauw belum? Dakwah ada berbagai macam, tidak hanya dengan bikin kultwit aja. Bikin sekolah berbasis agama, jadi panitia hari besar agama, mengajak orang untuk berbuat baik di jalan, juga termasuk dakwah kan? Bisa jadi Pak Siauw sudah melakukan hal2 luar bisa dalam usaha dakwahnya tanpa sepengetahuan orang banyak. Terlebih Rasul SAW juga menyampaikan bahwa berbuat baik secara tidak terang2an itu lebih disukai.

Ada juga yang bilang di twitter, menakar niat di balik sebuah tindakan bukanlah urusanmu, melainkan kewenangan Tuhan. Ini pernyataan benar: ga ada yang tau niat dalam hati selain si pemilik hati dan Tuhan. Nah, sekarang coba perhatikan lagi. Di kultwitnya, Pak Siauw coba menyampaikan pesan dari sudut pandangya melihat kebiasaan selfie orang2. Ga salah kan kalo beliau bilang selfie bisa menimbulkan rasa takjub dan kagum sama diri sendiri? Kemudian beliau melanjutkan, kalo timbul rasa takjub dan kagum, khawatir akan termasuk perbuatan ujub.. See? Ada kata “khawatir” di sini. Berarti masih ada kemungkinan kalo pelaku selfie tidak merasa ujub. Demikian pula dengan poin2 berikutnya tentang riya’ dan takabbur, ada kata berharap dan merasa. Menurut pemahaman saya, ini berarti kalo pelaku selfie tidak berharap fotonya dikomen atau dilike, tidak merasa lebih keren dari orang lain, berarti pelaku selfie bisa terhindar dari riya’ dan takabbur. Karena sekali lagi, niat dalam hati ga ada yang tau selain si pemilik hati dan Tuhan. Tapi coba tanyakan sama diri sendiri: adakah orang yang selfie ganteng dan cantik tapi tidak takjub sama diri sendiri, tidak berharap dikomen atau dilike, atau tidak merasa lebih keren dari orang lain? 🙂 Untuk itu beliau menyarankan lebih baik hindari melakukan kegiatan ini supaya terhindar dari penyakit hati di atas. Ga melarang buat selfie kok. hehe

Ga cuma buat selfie doang sih. Kadang kalo saya ngupload hasil jepretan saya (yang bukan selfie) di instagram, saya juga sering takjub, berharap dilike, dan merasa keren. Lupa sama Sang Pencipta objek jepretan saya. hiks 😐 Jadi saya pikir Pak Siauw ini lebih tepatnya sedang mengajak kita untuk menghindari penyakit hati. Bukan melarang selfie.

Kalo saja Pak Siauw ini orang biasa yang followernya cuma 100-200, mungkin tidak akan ada gelombang pe-ngece-an ini. Semoga kampanye hestek #Selfie4Siauw ini justru membuat lebih banyak orang tergerak menghindari penyakit hati. Terakhir, semoga kita sesama muslim selalu saling mengingatkan. Selalu saling mengingatkan untuk bisa lebih bertaqwa agar bahagia dunia-akhirat.. Insya Allah. Aamiin. Kebetulan kemaren saya abis dengerin kajian tentang bahaya ujub oleh Ustadz Firanda. Kalo selo, dengerin aja. Bagus. Ini linknya.

Semoga Ustadz Siauw dan kita semua selalu dilimpahi keberkahan. Kalo saya banyak salah, ingatkan saya ya. Wassalam.